Sanlat di SMU 1 Anggeraja lebih heboh lagi. Peserta yang hadir hampir 2 kali lipatnya dibanding waktu di SMKN 1 Enrekang sebelumnya. Yup, jumlah yang ikut mencapai 270-an orang. Format kegiatan yang kami terapkan juga tidak jauh dari yang di SMKN kemarin. Hanya saja, peserta kali ini lebih heboh. bahkan beberapa trainer ‘sempat’ nyerah ga mau ngisi materi lagi. hehehe, mereka ‘drop’ duluan. Dikerjai sama anak-anak SMU. Ada yang nitip salam, digodai tiap kali ngisi materi, sampai pake acara manggil-manggil tiap kali lewat di dekat mereka. “yah…namanya juga remaja, masih dalam tahap pencarian, dinikmati sajalah”. Aku hanya bisa bilang seperti itu. ‘Kalo diambil hati, atau diladeni, jadinya malah makin menjadi-jadi, so, just SMILE tiap kali mendapat perlakuan ‘aneh’ kayak yang di atas”. “insya Allah nyerah sendiri akhirnya”. Saya kembali melanjutkan.

Pas acara penutupan, saat panitia memanggil trainer dan SC untuk ta’aruf lebih dekat dgn peserta, sempat ada peserta yang narik jaket sama celana saya pas lewat di dekatnya. Cuma sempat berkomentar ‘Nih ade’ nakal banget ya’ merekanya cuma senyum-senyum doang.

Selesai penutupan, sempat diajak sama teman-teman ke Resting, nikmati pemandangan dan taman bunga yang ada di sana. Bangunannya unik. Perpaduan gaya modern dengan arsitektur Bali. Saat teman-teman yang lain keliling menikmati pemandangan, eh ga sadar saya tertidur di salah satu bangku panjang di bawah pohon. Kecapean, ditambah udaranya sejuk sih 😛 makanya sempat telat balik. Coz teman-teman dah pada nunggu di mobil untuk cari makan, saya masih pulas di bawah pohon, hehehe. AlhamduliLlah, ada yang samperin untuk membangunkan.

Setelah makan soto banjar di salah satu warung makan di pinggir jalan (tempatnya asyik bro, sejuk, menghadap ke arah gunung. So bisa makan sambil menikmati pemandangan lagi) kami pulang masih naik mobil yang tadi kami pake ke Resting. Sampai di depan SMU 1 Anggeraja, tiba-tiba saja dari pinggir jalan, adik-adik peserta pada banyak yang teriak manggil-manggil nama. Waduh, sempat kaget juga, coz jilbabnya pada dibuka sih 😦 Padahal, waktu saya ngisi materi dan nanya apakah di luar sekolah jilbabnya dibuka ato tidak, merekanya jawab tidak. Pfiuhh… ‘Gangguannya’ ga sampe situ saja. naik motor bertiga, mereka nyusul mobil yang kami pake. Sambil negur-negur panggila nama atau sekedar ‘Halo kaka’. Yah…keep smile doang deh. Masa mo marah. KAn lebih ga logis lagi. Sambil dalam hati banyak-banyak istighfar. Hehehe, PJ acara sampai minta-maaf ke saya melihat tingkah peserta yang sulit dikontrol. “Nikmati saja, jangan diambil pusing” kataku. “Ntar malah nambah stress”.

Akhirnya, sampai juga di rumah teman kembali. Duduk-duduk di balai bambu, nonton anak-anak bermain bola. Wah… jadi iri melihat mereka. Bisa tertawa lepas, bermain bebas tanpa ada masalah yang memberatkan bahu mereka. Jadi rindu pengen jadi anak kecil lagi ~_~ lagi asyik-asyiknya nonton, ada telfon dari panitia akhwat. Nasehatin saya biar banyak-banyak muhasabah. JazakiLlah ukhti, insya Allah. Memang sih, waktu pertama ‘ngambil’ amanah ngurus Dakwah Sekolah, sempat mau mundur coz tantangan-tantangan yang kaya’ tadi, tapi MR saya cuma bilang “Akhee…dimanapun antum diberi amanah, laksanakan saja dengan penuh tanggung jawab, kalo di Dakwah Sekolah antum dapat tantangan seperti itu, apakah antum menjamin di tempat lain tidak akan ada?”.”Di manapun antum, tantangan itu pasti akan datang, itu sudah tabiat kehidupan. Kalo di sini antum dapat tantangan seperti itu, maka di tempat lain pun tantangan akan tetap ada, meskipun dengan bentuk yang berbeda”

So…the dakwah must go on!! Tinggal kita para duat pandai-pandai menata hati, dengan memperbanyak kedekatan dengan RAbbul ‘Izzati

syahid_lover (Muhammad Ilham)

Lain lagi dengan masalah konsumsi dan akomodasi. Selama kegiatan, kami nginap di salah satu bangunan sekolah yang mereka jadikan ruang UKS, so ada tempat tidurnya 🙂 Disitulah kami nginap, sambil briefing mengenai semua item acara yang kami format. Ibu Kantin dan ibu (siapa ya namanya, lupa, hehehe) yang jadi ADS permanen di sekolah itu hampir ga pernah ngijinin kami beraktifitas sebelum makanan masuk ke perut kami. Sampai-sampai kadang ditegur kalo dah ke kelas atau aula untuk ngisi materi tapi makanan yang mereka suguhkan belum kami sentuh. Belum lagi minuman hangat dan cemilan yang selalu menemani rapat evaluasi kami tiap malam, selalu lancar. bahkan saat beberapa diantara kami sakit, mereka berdua juga yang ngurus obat dan tambahan selimut kesana-kemari. Ibu yang jaga di perpustakaaan pun demikian. Saat kami butuh tambahan jam untuk menghitung waktu, plus komputer untuk urusan administrasi, dengan senyum beliau meminjamkan miliknya untuk digunakan. Sampai acara berakhir, mereka-mereka duluan yang minta maaf ke kami, kalo selama ‘menjamu’ kami ada banyak kekurangan. waduh, sampe malu dan ga tau harus gimana. harusnya kami yang berterima kasih. Semua layanan dan fasilitas yang diberikan ke kami membuat kami seperti di rumah sendiri. Betah. jazakiLlah ya Ibu… Mudah-mudahan Allah SWT membalas kebaikan ibu semua dengan syurga-Nya. Amin… (jadi kangen nih sama my mother)

syahid_lover (Muhammad Ilham)

Pukul 9 lewat, mobil yang kami tumpangi mulai meninggalkan makassar. Saat memasuki perbatasan Rappang-enrekang, udara dingin mulai menyapa kulit. Nyesel juga sih, knapa ga pake jaket dari awal. Sekarang pas kedinginan, baru deh cari jaket. Eh, baru ingat. jaketnya ada di Ransel, sementara tuh ransel ‘ngumpet’ di bagasi mobil. So, susah ngambilnya. Jadinya, terpaksa deh, nahan dingin dengan melipat dua tangan di depan dada. Ngantuk, badan capek, akhirnya perjalanan lebih kurang 6 jam akhirnya sampe juga. Pukul 3 dinihari lewat sedikit, kami sampai di rumah seorang teman untuk nginap. lapar sih, belum sempat makan malam solanya. tapi mata yang sdh berat karena ngantuk lebih mendominasi dibanding perut yang minta diisi, so jaket tebal langsung saja kupakai, plus selimut dari tuan rumah….zzz zzz zzz. Pulas/

Belum pukul 7, saat masih nikmati secangkir teh hangat, eh… sdh ada telfon dari panitia akhwat. Disuruh siap-siap. katanya sih mobil untuk jemput menuju lokasi SanLat dan Pelatihan Manajemen ROHIS di SMKN 1 Enrekang dah menuju ke tempat kami. Waduh, gimana nih. Mana masih berantakan lagi. Belum sempat mandi,hehehe. Dingin masalahnya. tadi saja waktu sholat subuh sampe pake acara menggigil segala. Sekarang juga, tiap kali bicara uap putih keluar dari mulut, kayak orang ngerokok. Ternyata, dinginnya Enrekang hampir sama dengan malino ya,hehehe.

Wahhhh…segar. Ternyata mandi pagi memang bikin badan fresh bro (hehehe, teguran buat diri sendiri nih, biar di makassar mandinya jangan menjelang sholat dzuhur lagi). 10 menit berikut, sdh siap jalan bro. Sdh rapi, siap ngisi training, cieeee…. Mobilnya sih dah nunggu dari tadi. berhubung teman-teman ikhwannya pada belum siap, jadinya mereka terus dulu, menjemput panitia akhwat.

naik motor (panitia lain ikut sama akhwat naik mobil) saya menuju ke lokasi SMKN 1 Enrekang. Sampe di lokasi, SubhanaLlah, kontur bangunannya unik bro. daerah gunung yang berbukit-bukit ‘memaksa’ model bangunan mengikuti teksturnya. makanya jangan heran, kalau ingin menjelajahi semua bangunannya, kami harus naik-turn tangga (pfiuh…capek)

AlhamduliLlah, kegiatan hari pertama dan kedua lancar. Semua terkendali, hanya waktu materi malam habis isya yang kadang molor coz persiapan makan malam yang agak lama. Semua peserta antusias mengikuti item-item materi. Model yang kami buat memang tidak monolog. tapi interaktif. Dipadukan  dengan model training, alhamdulillah, bisa membangkitkan minat peserta untuk ikut larut, sehingga ‘susah’ mendapatkan satu saja diantara mereka yang ngantuk. Semua aktif, semua terlibat.
masalah yang mengganggu hanyalah tiap malam, ada saja orang luar yang masuk, nge-drink sampe mabuk di lingkungan sekolah tempat kami nginap untuk kegiatan. Yah… terpaksa (hehehe, ga ikhlas bgt ya) bantu-bantu panitia keamanan begadang untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Malam kedua kegiatan, suhu badan sempat naik. Capek plus dehidrasi kali ya. maklum, acara mulai pukul 3 dinihari untuk lail, sampe pukul 11 malam. Full. Waktu istirahat cuma saat sholat dan makan saja. sampe-sampe teman-teman panitia plus trainer minta ke saya tiap kali briefing untuk  nyusun ulang program yang telah ACC dari makassar. “terlalu padat akhee, materinya berat-berat lagi” begitu kata mereka. “Yup, ini masukan bagus buat teman-teman IQRO Club Makassar, insya Allah si rapat pengurus akan dipelajari lagi”.
Setelah minum susu hangat plus vitacimin (hmm…hmmm…bukan prolosi loh) badanku AlhamduliLlah kembali normal.

tantangan lain yang ada ialah, karena musim kemarau, maka di beberapa tempat debit air menurun. Termasuk di sekolah tempat kami buat kegiatan. jadinya tiap kali mau wudhu, harus ‘turun gunung’ ngambil air wudhu. tapi enak juga, bisa sekalian jalan-jalan sambil liat pemandangan yang indah. Untuk mandi pun demikian. beruntung, ga jauh dari sekolah, ada rumah teman yang bisa dipakai untuk ‘nebeng’ mandi, sekalian silaturahim dengan anggota keluarganya.

Yang paling berbekas di ingatanku adalah malam terakhir. Waktu merancang acara muhasabah untuk adik-adik sampai harus tidur pukul 2 dinihari. Tema yang kami angkat tentang perjalanan hidup dan Birrul walidain.
Sempat tidur 45 menit, pukul 02.45 kami bangun lagi. persiapan terakhir sebelum muhasabah. Pukul 03.00, panitia mulai membangunkan peserta satu per satu. matanya ditutup dan digiring ke aula 9akhwat). Peserta Ikhwan langsung ke lapangan. sambil ‘menculik’ satu satu peserta, nasyid ‘astagfiruLlah’,’bila waktu t’lah berakhir’,’ya Robbana’ dari OPICK terus diulang-ulang. mengkondisikan hati dan pikiran peserta untuk tenang dan memikirkan hakikat hidup. ketika semua peserta telah mengambil tempat, dalam suasana gelap, diputar slide tentang perjalanan kehidupan. Tentang kelahiran yang disambut gembira semua keluarga, masa kanak-kanak yang penuh keceriaan, remaja yang penuh warna, dewasa dengan segudang cita-cita, sampai tua dan akhirnya mati. “Perjalanan’ 15 menit itu sudah membuat beberapa peserta termasuk panitia meneteskan air mata. Begitu slide selesai diputar, kembali kegelapan total yang terhampar. perlahan, lagu ‘Bunda’ dari ‘Potret’ mengalun. Bersamaan dengan itu, teman-teman panitia, berjala ke peserta membangikan lilin dan sepucuk surat ‘dari bunda’. Diterangi cahaya lilin, dan lagu ‘bunda’, para peserta mulai membaca surat dari ibu. Seorang trainer <ukhti rahmah> jadi narator dengan mengingatkan kita semua akan pengorbanan seorang ibu yang dilakukan demi kesenangan anaknya, namun kadang dibalas dengan menyakiti hati mereka. SubhanaLlah, tidak ada yang tidak menangis. Semuanya. Sampai-sampai kami pun, yang hampir selalu membaca ‘surat dari ibu’ ikut-ikutan nangis 🙂

renungan jalan sampai pukul 4 subuh lewat. Setelahnya, kami sholat subuh jamaah. pagi hari, kami lanjut dengan outbond. Saat penutupan, peserta mempersembahkan satu lagu, yang mereka gubah dari lagu T’rima Kasihku Guruku. namun kata guru mereka ganti menjadi pembimbing. Acara salam-salaman menjadi rangkaian terakhir dari penutupan. hampir semua peserta minta maaf kalo selama kegiatan kadang ada yang jahil atau susah diatur. AlhamduliLlah, mereka bahkan menawarkan ke kami agar sempat silaturahim dulu ke rumah-rumah mereka sebelum kami ke makassar. JazakumuLlah, we are brother and sister in islam. ya Allah, kekalkanlah ikatan persaudaraan ini…

syahid_lover (Muhammad Ilham)  

Mukhoyyam is back!

Tanggal 1-3 September kemarin, MD2 Pandu Keadilan kembali digelar. lokasi di Gunung Bawakaraeng. 3 hari 2 malam penempaan fisik, akal dan ruhiyah, dibawah rimbunan pohon pinus, yang dilingkari sungai kecil yang mengalirkan kebeningan airnya sebagai sumber air minum. Angin musim kemarau membuat cuaca pegunungan yang memang sdh sejuk makin bertambah dingin. jaket tebal, skebo, kaos tangan, sleeping bed, sampe tenda dan ponco, tidak lupa pisau komando menjadi konsumsi penting per/peserta. Ditambah kompor parafin dan korek api.

Belajar dari pengalaman mukhoyyam tahun kemarin, kali ini ransum makanan yang mengisi ranselku tidak terlalu banyak. Cuma sepertiga dibanding tahun kemarin. 1 botol kecil air minum, 4 bungkus mie instant, 2 kaleng sarden, 6 sachet nutrisari+2 batang coklat (buat teman jalan pas long marc ke puncak) serta 3 roti (coklat again,hehehe). Biasalah, coz tahun kemaren, pas bawa banyak bahan makanan, malah menyusahkan pas longmarch ke puncak. nambah beban malahan 🙂 Bener kata murobbi, harta dunia memberatkan langkah untuk mencapai puncak cita-cita dan tujuan akhir. Pfiuh… kegiatan yang betul-betul merefleksikan semua agenda tarbiyah yang selama ini cuma berputar di Lingkaran Kecil yang selalu kami sebut Liqo atawa Lingkar Quantum.

For the first time too, saya diamanahkan mimpin kelompok yang bernama Usamah bin Zaid, nama seorang sahabat Rasulullah SAW yang dipercaya oleh beliau SAW mimpin pasukan perang di usia belia, 19 tahun. Berangkat kamis malam, kami ngumpul pukul 12.00 malam di sekret DPD PKS Makasssar. Dilanjutkan dengan short marc menuju DPW PKS Sul-Sel. Nginap di Masjid, dan besok paginya langsung naik truk ke Malino.

Action awal di Lokasi adalah mencari bambu kecil dengan tali hijau di ujungnya sebagai lokasi tempat pendirian tenda tiap kelompok. Jumlah kelompok ada 11, sementara jumlah bambu dengan tanda ada 10. So, tiap DanRu (Komandan Regu) ‘diperintahkan’ untuk segera menyebar mencari tanda tersebut. Susah bro, coz kondisi alam yang serba hijau dan coklat, maka menemukan bambu (yang juga berwarna coklat) dengan tali hijau diikat atasnya membutuhkan kejelian. Hampir 5 menit berlarian kesana-kemari, belum satupun DanRu yang mendapatkannya. AlhamduliLlah, saya menjadi DanRu pertama yang menemukan 2 bambu bertanda,hehehe. Maka setelah 15 menit masih banyak juga DanRu yang belum dapat lokasi, mereka dipanggil kemudian ditunjukkan lokasi masing-masing (tentu saja dengan punishment/iqob yang telah disepakati jika tdk berhsil mendapat jejak tempat yang disiapkan)

30 menit berikutnya, tenda plus makan siang sudah harus siap. Aturan yang diberlakukan di mukhoyyam selalu dengan perhitungan detik demi detik. Terlambat 1 detik dibayar dengan push up 5 kali. So, semuanya serba disiplin. Semi militer bro! Sampe pelajaran tali-temali dan P3M (pertolongan pertama pada musibah) harus dikuasai.

Agenda lanjutan segera menyusul. dari latihan karate, senam PKS, sholat wajib plus lail jamaah dan kultum, ditambah agenda rutin harian, PSB (Push Up, Sit Up dan Back Up) masing -masing 30 kali. Tilawah Al-Qur’an minimal 1 juz. Satu dari agenda di atas ‘dilewatkan’ oleh satu jundi (prajurit, maka satu kelompok yang ‘kena getahnya’.
Selain itu, kegiatan outbond menjadi agenda utama lainnya. dari yang sifatnya middle risk sampe yang high risk. Melewati jaring laba-laba, electric fence sampe 3 anggota kelompok saya cedera pergelangan kaki sampe bengkak. Manjat spidet net setinggi 5 meter, menyeberangi titian di atas sungai sepanjang 6 meter, lanjut ke rintangan loncat katak setinggi 0,5 meter. Saatnya berkotor-kotor ria, hehehe. teman-teman mengistilahkannya ‘gak kotor ya gak belajar’. Yup, rintangan selanjutnya adalah merayap menuruni dan mendaki parit yang berlumpur, trus palang bertingkat 8 meter yang terdiri dari 4 bilah bambu yang diikat di 2 batang pohon, merayap di bawah tali (kawat berduri ceritanya) setinggi 30 cm, dan ditutup dengan menjaga keseimbangan di balok titian antara 2 pohon. Seru, namun banyak menyisakan anggota kelompok yang cedera. Dari kaki dan tangan keseleo, lutut terkilir, sampai pergeseran tulang belakang karena jatuh dan benturan menjadi hal yang banyak ditemui di sini.

But it’s a battle! Ini belum seberapa dengan persiapan ikhwah yang sedang dilanda perang dengan kaum kuffar. Maka agenda hirosah (jaga malam) tiap kelompok pun menjadi kewajiban. Kelompok yang anggotanya tertidur saat hirosah, bisa dipastikan pagi harinya pasti ada saja barangnya yang hilang. Dari sepatu/sandal gunung, lampu badai sampai ponco dan alat masak. malam terakhir, diisi dengan saroya (aktivitas memata-matai). Semua kelompo dianggap ‘musuh’ maka kita harus mengamankan semua ‘anggota’ dan ‘barang’ kelompok. Strategi bermain, asalkan kelompok bisa aman sampai pagi, terapkan saja.

Kelompok kami membuat 3 titik api berjarak masing-masing 3 meter dari tenda sebagai lokasi ‘red alert’ jika ‘musuh’ berhasil menyeberanginya. Di luarnya sampe parit dan sungai, itu titik ‘careful’. Selain itu, bisa dianggap daerah aman. Semua anggota kelompok kami yang berjumlah 9 orang masing-masing berjaga di tiap titik api. 3 per titik. Ditambah dengan tiap 10 menit, berjalan keluar ke daerah ‘careful’ untuk mengecek keberadaan musuh. 2 orang pada jam-jam tertentu diutus untuk memata-matai tenda musuh, mencari informasi tentang mereka untuk dilaporkan keesokan harinya. Kata sandi dipakai untuk membedakan mana musuh mana kawan. Maklum, ponco menutupi semua wajah kami. AlhamduiLlah, tenda yang merupakan markas kami berhasil aman sampai paginya. malahan, sempat menahan seorang komandan musuh, yang sempat melintas daerah ‘careful’ dan bersembunyi di bawah pohon, untuk memata-matai kami. Jadilah komandan ‘musuh’ itu kami sekap di dekat perapian, diinterogasi dan digeledah. namun kami baik kok, hehehe. Kami tetap menghangatkannya di dekat api (udara dingin sekali, sampai gigi saling bergeletukan). Diizinkan tidur sambil tetap dijaga sama 2 jundi (prajurit). Setelah sholat subuh, dia dikembalikan ke ‘markasnya’. Dan 2 spy yang kami kirim untuk mengintai kembali dengan beberapa informasi penting, meskipun satu orang syahid kena ‘peluru’.

Ini dia aktivitas yang paling banyak menguras energi. Semalaman begadang, paginya langsung longmarch ke puncak bawakaraeng. Dengan ransel di punggung, mulailah iringan peserta berbaris rapi menuju puncak. Berbekal coklat dan nutrisari, kami memulai perjalanan. Tiap POS yang terdapat sungai, langsung saja botol diisi air dan ‘dikeruhkan’ dengan nutrisari. Glek aja langsung. Segar, seperti baru keluar dari freezer. Sampe puncak, isrirahat 20 menit langsung turun lagi ke lembah ramma untuk upacara penutupan sekaligus pelantikan. Magrib menjelang, saat doa Robithah (pengikat hati) dibacakan usai pelantikan. Berkemas kembali, kami berakbir dan meninggalkan lembah ramma, menuju jalan raya dimana sudah menanti truk yang akan membawa kami kembali ke makassar.

Capek, kulit terbakar, sakit, lelah, kelaparan dan dehidrasi menjadi ‘oleh-oleh’ kembali ke komunitas. Namun di balik semua itu, azzam, semangat ukhuwah, penerapan prinsip qiyadah wa al-jundiyah, disiplin, ilti’zam, charge ruhiy, amal jama’i, dan konsep-konsep dakwah lainnya makin lekat di benak dan amalan. Dengan kekuatan fisik, fikri, dan ruhiy yang seimbang, menjadi bara api yang akan tetap menyalakan izzah untuk tetap bergerak bersama kafilah ini, menyongsong tegaknya kejayaan islam, yang masih terpuruk di lembah kenistaan.

Muhammad Ilham (syahid_lover)  

Sejarah baru tercipta. Untuk pertama kalinya MADZCOM Crew buat nasi goreng sendiri. Biasanya juga beli di warung SABILI Pintu 1. Hehehe, seru juga, coz buatnya rame-rame. Aktivitas dimulai Irwan//kernel//dgn narik sumbu kompor yang sudah pendek (kaciaaaan….masih pake kompor minyak tanah masalahnya). Pas sudah mau dinyalakan, eh si Salim//caling// malah nyiram kompor pake air waktu dia lagi cuci piring. Ga tau juga kenapa tiba-tiba air bekas cuci piring malah ditumpahkan ke kompor. Hahhhh….ga sengaja katanya. Yah, jadinya kompor yang cuma satu-satunya dijemur dulu di bawah matahari setengah jam.

Sambil nunggu kompornya kering, Ridwan//uda// dan Yudi//pandu_16//ke pasar beli cabe, bawang, bumbu instant nasi goreng plus wajan. Yang lain masih anteng di depan kompie ngerjakan TA sama utak-atik program.

Yes…kompor kering juga akhirnya, bersamaan dgn datangnya tuh anak yang ke pasar. Now, it’s my turn. Masak nasi 2 panci. Nunggu nasi masak, ngiris bawang dan cabe pake pisau komando (weks… biar gaya kepanduan-nya kelihatan sedikit).Antri…antri…antri. Nasi masak, bawang plus cabe ditumis. And then, buat telur dadar. Barulah setelahnya, aktivitas –menggoreng nasi- dimulai.

Unik fren, coz ngaduk nasinya pake sendok makan,hehehe ga punya alat seperti yang yg dipake di warung-warung makan soalnya. Jadilah 3 tangan //pandu_16,uda,milo_bugz//masing-masing satu sendok mengaduk-ngaduk nasi di wajan biar campuran bumbu dan panasnya rata. Kerja keras bo, nasi dua panci dibolak-balik pake sendok makan.

Selesai! Makan..makan…makan. Segera saja teman-teman yang masih di depan kompie ikut gabung. Berdelapan, kami ngambil tempat di beranda belakang MADZCOM tempat teman-teman bersantai. Pfiuhhh…sebelum makan, semuanya diminta menyepakati MoU “jika setelah memakan nasi ini, ada yang sakit perut ato masuk RS, pembuatnya tidak dikenakan tuntutan apa-apa, dan bersedia menanggung sendiri biaya pengobatannya” (Hehehe, kebanyakan berorganisasi sih), makanya pake Mou-MoU segala.

Ternyata, Ahhhhh….ga sia-sia deh bereksperimen for the first time, nasinya habis juga. Enak, sampe-sampe sempat kepikiran buka Rumah Makan sendiri 🙂

__Tidak ada makanan yang lebih nikmat, selain memakan apa yang dihasilkan dengan keringat sendiri__

Allah membuat pikiranmu berubah

dari satu keinginan ke keinginan yang lain

Allah mengajarkan dialektika

wings.jpg

Agar kau memiliki 2 sayap

Bukan 1

Agar bisa terbang

Aku ingin menjadi angin Madinahmosque_madinah01_sm.JPG

Bertiup…berputar…

Menyentuh puncak-puncak menara

Bersenandung bersama kidung kemenangan

Lalu tunduk pasrah,

bersama debu

Luruh, sujud lurus bershaff dgn dahi manusia

Di keberkahan Masjidnya